Eksotik Gunung Singgalang memang tidak di ragukan lagi. Dengan keaneka­ragaman satwa dan pesona alam yang disajikannya, gu­nung yang memiliki keting­gian 2.877 Mdpl ini mampu memanjakan para penggiat alam, dan menikmati ke­indahan alam atas karunia Tuhan Yang Maha Esa.

Ketenaran Gunung Sing­galang juga tidak terlepas dari kemolekan Telaga Dewi yang selalu memancarkan keinda­hannya dan selalu membuat betah para pengunjung me­man­dangi kemilau cahaya bintang di permukaan telaga.

Untuk menikmati kein­dahan dan keagungan gunung yang bersebelahan dengan gunung Tandikek ini tidaklah begitu sulit.

Hanya dengan menempuh perjalanan selama enam jam, anda akan me­ngin­jakkan kaki di tepi Telaga Dewi setelah hasrat petua­lang anda terus dipompa saat menaklukkan medan yang lumayan me­nguras energy.

Untuk mencapai puncak, biasanya para pendaki dian­jurkan untuk melalui jalur Koto Baru, Agam yang nanti­nya akan melewati Nagari Pandai Sikek.

Disana kita akan bisa melihat dan berwi­sata secara langsung ke per­kam­pungan yang sangat ter­kenal akan songketnya. De­ngan ramah, biasanya para perajin akan melayani para pengunjung apabila ingin mengetahui dan mengenal songket Pandai Sikek secara mendalam.

Setelah lelah melewati nagari Pandai Sikek yang menanjak curam dengan me­ma­kan waktu selama dua jam sambil menelusuri perkebunan tebu, anda bisa beristirahat di pondok yang tersedia khu­sus untuk para pendaki di samping tower stasiun TVRI, RCTI, dan metro TV Pandai Sikek. Di depan pondok, anda bisa melihat kesangaran dan kekokohan Gunung Marapi.

Di pondok ini, biasanya para pendaki menyempatkan bermalam dengan mendirikan tenda hanya untuk menikmati keindahan sunrhise yang menakjubkan dari balik Gu­nung Marapi.

Selangkah meninggal pon­dok, pendakian akan lebih terasa berat karena akan di rintangi oleh hutan Pimpiang yang mengharuskan para pendaki sekali-kali untuk menunduk dan merayap. Jalur ini akan dilewati selama 1 jam perjalanan dan akan berakhir di mata air satu atau shelter satu. Dengan keter­sediaan air yang melimpah, shelter satu ini menjadi fa­vorit bagi pendaki untuk nge-camp. Disamping itu juga, lokasi ini sangat landai dan luas, sehingga mampu me­nam­pung 5-6 tenda untuk berdiri.

Dari shelter satu anda akan menempuh rute yang menanjak sampai ke cadas, dengan kemiringan rata-rata 45 derajat. Makin ke puncak anda akan menemukan ba­nyak pohon pakis yang cantik dan melewati trek yang agak lembab dan hutan yang masih asri. Di kiri atau kanan, anda akan menemukan tiang listrik dan kabel-kabel yang bisa dijadikan panduan untuk sampai ke puncak Karena di puncak gunung singgalang terdapat tower pemancar satelit. Namun bagi beberapa pendaki, tiang dan kabel listrik yang ada di sepanjang jalur pendakian dianggap sebagai pengganggu.

Perjalanan menempuh rute sebelum cadas biasanya memakan waktu normal seki­tar 5 jam. Namun itu tergan­tung cepat atau lambatnya perjalanan pendaki, karena di rute ini fisik anda akan benar-benar diuji.

Setelah mencapai cadas, sontak perubahan suhu udara akan sangat terasa drastic. Pendaki biasanya akan mera­sakan hawa yang lebih dingin dan hembusan angin yang lebih kencang.

Saat berada di cadas, pendaki akan melihat banyak batuan yang berwarna kuning dan sebuah tugu yang diberi­nama Galapagos SMA 1 Padang yang dibuat untuk mengenang dua orang siswa SMA 1 Padang yang hilang saat mendaki gunung singga­lang ini tahun 1988 lalu.

Setelah melewati cadas, kita akan memasuki kembali kawasan hutan yang lembab dan pohon-pohon yang dise­limuti lumut tebal. Hanya dengan menempuh perjalanan selama satu jam, eksotik telaga dewi akan terlihat secara langsung oleh anda.

Telaga yang sering diseli­muti kabut ini, akan menam­pilkan pesona yang khas untuk membuat para pendaki betah berlama-lama memandangi permukaan air telaga yang bening sambil mendengarkan hembusan angin yang mampu mendamaikan hati anda.

Banyak yang mendaki gunung singgalang hanya sampai di telaga dewi saja. Namun masih ada lagi puncak singgalang yang memakan waktu satu jam lagi.

Di puncaknya ini kita akan menemukan tower pe­mancar satelit yang meru­pakan mua­ra dari tiang-tiang yang dite­mui di sepanjang perjalanan. (sumber : harianhaluan.com)

(684 pengunjung)